Dari Asesor Menuju Guru Besar, Eva Dwi Kumalasari Siapkan Langkah Akademik Berikutnya
![]() |
| Foto: Dosen Eva Dwi Kumala Sari, M.Pd. |
Bekasi, (04/10/2026) Keberhasilan menjadi asesor bukan menjadi titik akhir bagi seorang dosen untuk terus mengembangkan kapasitas akademiknya. Justru, pencapaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi sekaligus membuka peluang untuk meraih jabatan akademik tertinggi, yakni guru besar.
Dalam wawancara, salah seorang dosen yang baru saja dinyatakan lulus sebagai asesor mengungkapkan bahwa dirinya memiliki peluang untuk mengajukan kenaikan jabatan akademik menjadi guru besar. Namun, menurutnya, proses tersebut bukan sekadar persoalan keinginan, melainkan harus memenuhi sejumlah persyaratan yang telah ditetapkan.
Ia menjelaskan bahwa perjalanan menuju guru besar harus melalui tahapan jabatan akademik, mulai dari Asisten Ahli, Lektor, hingga Lektor Kepala. Dalam perjalanan kariernya, ia mengaku pernah memperoleh kenaikan jabatan dari Lektor dengan angka kredit 200 langsung menuju Lektor Kepala dengan angka kredit 500.
“Kalau guru besar bukan mencoba, tetapi harus memenuhi persyaratan. Itu berkaitan dengan kepangkatan,” jelasnya.
Baca Juga:
Membangun Pendidikan Karakter dan Berpikir Kritis Gen-Z di Era Teknologi Digital
Ia menambahkan, dari sisi angka kredit kumulatif (KUM), dirinya merasa telah memiliki bekal yang cukup. Sejak menduduki jabatan Lektor Kepala pada 2023, ia terus mengembangkan produktivitas akademiknya melalui penerbitan buku dan artikel ilmiah. Meski demikian, terdapat persyaratan khusus yang masih harus dipenuhi dan saat ini tengah dipersiapkan.
Salah satu persyaratan yang menjadi perhatian adalah keterlibatan dalam pengujian disertasi mahasiswa program doktor. Ia menyebutkan bahwa dosen yang hendak mengajukan jabatan guru besar harus memenuhi ketentuan tertentu terkait pengalaman menguji disertasi, termasuk minimal tiga mahasiswa doktoral.
“Kalau KUM mungkin bisa memenuhi, tetapi persyaratan khusus itulah yang sedang diproses. Jadi, saya harus melihat apa yang belum terpenuhi dan itu yang harus dikejar,” ungkapnya.
Di sisi lain, keberhasilannya menjadi asesor juga memiliki motivasi tersendiri. Baginya, amanah tersebut bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga kesempatan untuk berkontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan tinggi.
Ia mengaku bahwa pada awalnya tidak memiliki keinginan untuk mendaftarkan diri sebagai asesor. Namun, berkat dorongan dan dukungan dari rekan-rekan seperjuangan, ia akhirnya memberanikan diri mengikuti proses seleksi hingga dinyatakan lulus.
Atas pencapaian tersebut, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada rekan-rekan dosen yang telah memberikan dukungan, pimpinan yang memberikan izin dan kesempatan, serta keluarga, khususnya sang ibu yang terus mendoakan keberhasilannya.
Baginya, doa seorang ibu memiliki arti yang sangat besar dalam setiap proses yang dijalani. Ia menceritakan bahwa sang ibu selalu mendoakannya agar dapat lulus sebagai asesor. Ketika kabar kelulusan itu disampaikan, sang ibu menyambutnya dengan senyum bahagia.
“Yang penting doa orang tua, terutama doa ibu. Alhamdulillah, masih bisa terijabah, tentu dengan usaha dan perjuangan juga,” tuturnya.
Ke depan, ia menyadari bahwa amanah sebagai asesor membawa konsekuensi tersendiri, termasuk kemungkinan meningkatnya aktivitas dan tanggung jawab di luar kampus. Meski demikian, ia berharap peran barunya dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi.
Perjalanan menuju guru besar pun menjadi target akademik berikutnya yang ingin ia persiapkan secara matang, dengan melengkapi setiap persyaratan yang masih diperlukan.
Pewarta: Rayyan Fachrizki

Posting Komentar untuk "Dari Asesor Menuju Guru Besar, Eva Dwi Kumalasari Siapkan Langkah Akademik Berikutnya"