Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mahasiswa Jangan Cuma Pintar di Kelas! Syahril Ungkap Peran Anak Muda sebagai Agent of Change

M. Syahril Mubarok, Pemateri Propesa di Kampus STAI Marhalah 'Ulya pada Minggu (30/08/2026).
Bekasi, Pers Marhalah 'Ulya
Menjadi mahasiswa tidak cukup hanya dengan memiliki kemampuan akademik yang baik. Mahasiswa juga dituntut peka terhadap persoalan masyarakat, mampu berpikir kritis, serta berani mengambil peran dalam mendorong perubahan.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Syahril Mubarok dalam pemaparannya pada kegiatan Propesa pada hari kedua (30/08/2206), di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Marhalah Al-‘Ulya dengan mengangkat judul "Transformasi Intelektual: Mahasiswa sebagai Agent of Change".

Dalam pemaparannya, Syahril menyoroti sejumlah persoalan sosial dan kebijakan pemerintah yang dinilai perlu mendapat perhatian mahasiswa. Salah satunya terkait aksi demonstrasi pada 27 Juli yang dipicu oleh kenaikan harga kebutuhan pangan dan papan.

Ia juga menyinggung pentingnya pengesahan undang-undang perampasan aset sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat penegakan hukum terhadap pejabat yang terlibat korupsi, kolusi, nepotisme, maupun tindakan lain yang melanggar hukum.

Menurut Syahril, berbagai kebijakan pemerintah, termasuk di era Presiden Prabowo Subianto, perlu berjalan sesuai aturan sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat. Ia mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya tidak dapat menjadi satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan ekonomi.

Menurutnya, pemerintah juga perlu melihat dampak kebijakan tersebut terhadap pengangguran dan keberlangsungan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Karena itu, kebijakan publik perlu disusun dengan mempertimbangkan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat.

Mahasiswa Tak Harus Demonstrasi, tapi Harus Peka

Berbicara mengenai peran mahasiswa sebagai agent of change, Syahril menegaskan bahwa demonstrasi bukan sebuah kewajiban. Namun, mahasiswa setidaknya perlu memahami bagaimana aksi menjadi salah satu bagian dari kehidupan demokrasi dan, jika diperlukan, turut terlibat dalam menyuarakan kepentingan masyarakat.

“Mahasiswa harus peka terhadap persoalan yang terjadi di masyarakat dan mampu berpikir kritis,” ujarnya.

Ia menilai keterbukaan informasi di era digital justru menghadirkan tantangan baru. Masyarakat dapat dengan mudah menerima dan menyebarkan informasi, tetapi tidak semuanya mau membaca atau memahami persoalan secara utuh.

Menurut Syahril, kondisi tersebut dapat membuat masyarakat mudah terpecah. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan membaca informasi hanya dari judul atau headline tanpa mencari tahu isi dan konteks secara lebih mendalam.

Karena itu, mahasiswa dinilai memiliki posisi penting untuk menjadi kelompok yang mampu membaca persoalan secara kritis, memeriksa informasi, dan menyampaikan pandangan berdasarkan pemahaman yang utuh.

Pintar Saja Tidak Cukup

Syahril juga mengingatkan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya menjadi individu yang pintar secara akademik. Menurutnya, kecerdasan perlu diimbangi dengan etika dan kemampuan untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Salah satu wadah yang dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan tersebut adalah organisasi. Melalui organisasi, mahasiswa dapat belajar berkomunikasi, bekerja sama, menyampaikan pendapat, sekaligus memahami berbagai persoalan yang ada di masyarakat.

Ia juga mendorong mahasiswa, khususnya mereka yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, untuk memiliki semangat meningkatkan taraf hidup keluarganya.

Namun, ketika kondisi sosial dan ekonomi keluarga sudah membaik, mahasiswa tetap diingatkan untuk tidak melupakan tanggung jawab utamanya sebagai seorang mahasiswa.

Pemerintah Perlu Melihat Semua Lapisan Masyarakat

Selain persoalan mahasiswa, Syahril turut menyoroti kebijakan pemerintah dalam menangani persoalan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, pemerintah tidak seharusnya hanya berfokus pada masyarakat kelas bawah melalui bantuan seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan sembako. Pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana menciptakan prospek pekerjaan yang lebih baik bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Di sisi lain, persoalan yang dihadapi masyarakat kelas menengah juga tidak boleh diabaikan. Salah satunya berkaitan dengan kebutuhan transportasi umum yang layak dan terjangkau.

Syahril menegaskan bahwa perubahan tidak dapat hanya dibebankan kepada satu kelompok. Pemerintah, masyarakat, dan kelompok yang memiliki kekuatan ekonomi memiliki peran masing-masing dalam menciptakan perubahan.

Bagi mahasiswa, menjadi agent of change bukan sekadar soal turun ke jalan atau menyampaikan kritik. Lebih dari itu, mahasiswa perlu memiliki kepedulian, kemampuan berpikir kritis, etika, serta kemauan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya dikenal sebagai generasi yang pintar di ruang kelas, tetapi juga mampu memahami persoalan dan ikut mencari jalan keluar bagi masyarakat.

Pewarta: Rayyan Fachrizky

Posting Komentar untuk "Mahasiswa Jangan Cuma Pintar di Kelas! Syahril Ungkap Peran Anak Muda sebagai Agent of Change"